INILAH.COM, Jakarta - Ilmuwan memberi peringatan bahwa sebuah bongkahan es raksasa yang telah terpisah di Antartika dapat mempengaruhi kondisi air laut dan mengganggu pola cuaca.
Bongkahan es seluas 965 meter persegi, pecah awal bulan Februari ini dari glatsier Mertz. Bongkahan ini mengambang berbentuk lidah dan melayang di lautan selatan. Di selatan Australia, juga ada bongkahan es seluas 1300 kaki.
Peneliti dari Perancis dan Australia mengatakan, bongkahan es tersebut dapat memblok area yang memproduksi air padat dan super dingin. Kepadatan air tersebut mampu menjaga iklim lebih baik. Jika tenggelam ke dasar lautan maka akan memberikan efek kepada sirkulasi lautan dan mengubah panas di seputar belahan dunia.
Sedangkan pelambatan proses tersebut akan memberikan suhu yang lebih dingin di utara Atlantik dan Eropa pada dekade selanjutnya. Binatang es yang hidup di laut beku juga dapat terganggu kekayaan keanekaragamannya di laut bagian selatan termasuk koloni besar pinguin di Antartika.
Es bermassa miliaran ton yang belum dinamakan dilepaskan oleh lapisan es yang lebih tua dikenal sebagai B9B, yang juga terpisah pada tahun 1987.
Bertumpuk di benua Antartika lebih dari 20 tahun, B9B menabrak lidah Metz layaknya pertempuran gerak lambat setelah bergerak dari posisi asalnya. “Lidah es hampir terpisah seluruhnya, menggantung layaknya gigi yang akan putus,” ujar Ahli Glasial Perancis Benoit Legresy.
Baik perputaran alamiah maupun perubahan iklim buatan manusia mampu berkontribusi terhadap runtuhnya lapisan es dan glasial. Kondisi lautan yang ketat dan secara konstan melawan area yang ada, sementara musim panas dan peningkatan temperatur juga mengambil perannya dalam hal tersebut.
Lidah glasier Metz yang diukur dengan menggunakan rambu GPS dan instrumen pengukuran lainnya akan menyediakan penglihatan yang krusial terhadap bagaimana lapisan es dan glasier mampu mempengaruhi alokasi air bumi. [ast]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar